Sabtu, 18 Agustus 2012

Beginilah Berhari Raya yang Islami




 
Dengan alasan tradisi, cipika-cipiki pria/wanita yang bukan mahram

Oleh: Ali Akbar bin Agil
PADA tiap edisi Lebaran Idul Fitri masyarakat yang tinggal di perkotaan melakukan ‘ritual’ mudik ke kampung kelahiran.  Pada tahun ini para pemudik diprediksi mencapai 16 juta jiwa, baik yang menggunakan alat transportasi udara, darat, maupun laut.
Dalam ‘ritual’ satu ini instansi pemerintahan seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Polri bekerja siang-malam demi menyukseskan hajatan tahunan terbesar itu. Beragam cara dan aturan dibuat demi menunjang kelancaran dan keselamatan para pemudik.
Demikian halnya dalam berhari raya, penting sekali bagi kita mengenal ‘rambu-rambu’ yang mengatur bagaimana kita mengisi hari raya dengan hal-hal islami demi ‘menunjang keselamatan dan kelancaran’ dalam berhari raya. Agar kesucian yang Allah berikan kepada kita bisa terjaga kelangsungannya.
Rambu-rambu pertama adalah tetap dalam kesederhanaan. Kita sah-sah saja membeli dan mengenakan baju baru, kemeja, baju koko, sarung, abaya bagi muslimah, yang baru. Boleh-boleh saja kita membuat kue atau masakan untuk dimakan oleh anggota keluarga maupun sebagai sajian hidangan buat para tamu.  Akan tetapi, semua hal di atas tetap kita lakukan dengan kesederhanaan dan jangan malah menjadi ajang saling bermegah-megahan, bermewah-mewahan, dan bersikap boros.
Ramadhan yang tidak lama lagi kita tinggalkan mengajarkan pengendalian hawa nafsu dari perkara-perkara yang tidak sepatutnya, termasuk mengendalikan diri dari mengikuti keinginan tanpa didasari kebutuhan yang mendesak. Dalam Al-Qur`an dengan tegas Allah melarang bersikap boros.

Allah berfirman:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيراً
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً

 “…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra` [17] : 26-27).

Begitu pula dalam soal makan dan minum, ada ‘rambu-rambu’ untuk mencegah terjadinya ‘kecelakaan’ pada fisik kita. Pada intinya, kita bisa makan dan minum sesuai kebutuhan kita, tapi sekali lagi, tidak berlebih-lebihan. Makan saat betul-betul lapar dan berhenti sebelum kenyang, demikian yang diajarkan oleh Rasul.
يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A`raaf [07] : 31).

Cara berhari raya idul fitiri secara islami yang kedua adalah mempererat tali silaturrahim dan persaudaraan sesama umat Islam. Dalam Islam persaudaran tidak mengenal batas-batas territorial, suku, ras, dan warna kulit. Rasulullah membuat perumpaan persaudaraan dengan indah. Beliau menggambarkan bahwa persaudaraan di antara sesama umat Islam laksana sebuah bangunan yang saling menguatkan.
Di sisi lain, ada satu hal yang telah mendarah daging padahal salah tapi dipandang lumrah belaka, yaitu bersalam-salaman dengan laki atau wanita yang tidak satu mahram. Dengan alasan sudah jadi tradisi dan kebiasaan turun-temurun, seorang laki-laki menyalami wanita atau sebaliknya ditambah dengan cipika-cipiki. Hal demikian jelas bertentangan dengan ‘rambu-rambu’ berhari raya yang islami.

Soal ketidakbolehan bersalaman dengan yang bukan mahram, Rasulullah telah menjelaskan, “Ditusuknya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada (menanggung hukuman disebabkan) menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani)
Mungkin saja ada yang berdalih bahwa dirinya pernah melihat seorang tokoh agama menyalami wanita yang bukan mahramnya. Untuk menjawabnya, kita katakan bahwa perilaku manusia tidak dapat dirujuk menjadi alat pembenar untuk menyatakan keabsahan suatu perbuatan. Dalil dan petunjuk yang sah adalah Rasulullah SAW yang pernah bersabda, “Sesungguhnya aku tidak menyalami kaum wanita.” (HR. Ahmad).

Halal bi Halal
Di Tanah Air, silaturrahmi dalam momentum Idul Fitri sering diistilahkan dengan Halal bi Halal yang terwujud dalam pertemuan keluarga atau reuni dengan teman lama.
Adab-adabnya sebagai berikut:
Pertama, memperhatikan hari dan waktu yang tepat untuk berkunjung. Usahakan memberi tahu di awal terutama untuk yang akan datang dari jauh, gunakan pakaian yang baik, membawa hadiah atau sesuatu yang bermanfaat baik materi maupun non materi jika mampu.

Kedua, orang yang lebih muda sepatutnya mendatangi orang yang lebih tua. Begitu pula orang awam mendatangi orang alim yang lebih tahu permasalahan agama.
Ketiga, dianjurkan saling memberi nasihat dan wasiat kebaikan. Jika dalam acara resmi dianjurkan mengundang dai atau muballigh untuk member siraman rohani.
Keempat, jangan mengatakan dan melakukan sesuatu yang tidak disukai serta hindari ghibah (menggujing) dan dusta.
Kelima, menjauhi kemaksiatan seperti bersalaman dengan yang bukan mahram –sebagaimana yang telah disinggung di atas-, menyuguhkan musik dan lagu yang tidak islami, melalaikan datangnya waktu shalat.
Keenam, ketika bertemu dianjurkan untuk berjabat tangan, mengucapkan salam ketika pertemuan dan perpisahan serta saling mendoakan. Ketika bertemu saudara sesama muslim dianjurkan untuk mengucapkan, “Taqabballahu minna wa minkum, kullu `amin wa antum bi khair” (semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian, serta semoga kalian selalu dalam kebaikan). Perkataan tersebut diucapkan dengan tulus dan wajah riang agar amal-amal kita benar-benar diterima Allah SWT.

Cara ketiga berhari raya Idul Fitri yang islami adalah dengan tidak lagi mengulangi kemaksiatan. Biasanya di bulan Ramadhan, kantong-kantong kemaksiatan ditutup rapat-rapat; biasanya pula di bulan Ramadhan sebagian artis yang biasanya tampil seronok, mengumbar aurat, ramai-ramai meramadhankan diri dengan menutup tubuhnya rapat-rapat dengan balutan kerudung dan seterusnya; biasanya juga, tayangan-tayangan televisi yang sering menampilkan program tidak mendidik, sedikit banyak menampilkan acara-acara bertemakan Ramadhan.
Dari semua kebiasaan-kebiasaan baik yang tercipta dalam bulan Ramadhan ini, seiring selesainya bulan suci tersebut kantong-kantong kemaksiatan dan tayangan-tayangan televisi kembali ‘unjuk gigi’ dengan kekhasannya.
Apabila kita tidak pandai melihat keadaan seperti ini, bisa saja kita salah dalam menerjemahkan makna berhari raya idul fitri yang ujung-ujungnya memburamkan makna dan hikmahnya. Contohnya, kita sudah beristiqamah melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid selama bulan Ramadhan, beristiqamah mengenakan jilbab, menutup aurat, bertaubat dari bermain judi, menunggak Miras, dan sebagianya, semua itu akan menjadi berhenti manakala kemaksiatan terulang karena tidak kuat mengelola diri dengan baik.

Langkah pertama dan utama untuk tidak mengulang perbuatan maksiat adalah seperti yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim dengan, “Lawanlah lintasan itu! Jika dibiarkan, ia akan menjadi fikrah (gagasan). Lawanlah fikrah itu! Jika tidak, ia akan menjadi syahwat. Perangilah syahwat itu! Jika tidak, ia akan menjadi `azimah (hasrat). Apabila ini juga tidak dilawan, ia akan berubah menjadi perbuatan. Dan jika perbuatan itu tidak Anda temukan lawannya maka ia akan menjadi kebiasaan, dan setelah itu sulit bagimu meninggalkannya.”
Alangkah indahnya Ramadhan yang diakhiri dengan hari idul fitri yang islami, jauh dari kemewahan dan kemegahan, ajang pamer harta, namun menjadi wahana untuk tetap istiqamah di jalur kebaikan agar selamat dalam perjalanan mudik dari dunia ke negeri akhirat.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Taqabballahu minna wa minkum, kullu `amin wa antum bi khair.*
Penulis adalah Pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang-Jatim

Jumat, 17 Agustus 2012

DIAM

Diam adalah RELATIVE TO…

Kadang mulut diam tapi hati berbicara,
kadang raga diam tapi mata jelalatan,
tapi ada juga diam tak bergrak

yang pasti, ketika perbuatan / perkataan seseorang lebih condong ke arah yg BURUK…Maka lebih baik Ia DIAM

namun, ada catatan kecil yang harus dicermati dengan bijak yaitu fitrah manusia yang tak luput dari suatu MASALAH…

Masalah tersebut bisa antar manusia (HABLUM MINANNAS) ataupun dengan ALLAH SWT (HABLUM MINALLAH)

Sehingga juka ada suatu masalah / persoalan yang harus dibicarakan, maka lebih baik di BICARAKAN dengan cara yang BAIK pula.

Jika memiliki kekhilafan / kesalahan pada orang lain Kita WAJIB berbicara untuk MEMINTA MAAF......

Jika banyak melakukan dosa maka Kita harus melakukan komunikasi dengan SANG KHALIQ yaitu meminta ampun dengan membaca ISTIGHFAR , BERBICARA kpd-Nya, Mengharap pnghapusan sgl dosa, serta melakukan apa yang telah IA perintahkan dan menjauhi LARANGANNYA........

Hidup Dan Mati

hidup dan mati adalah sama;

tiada kita ketahui kapan masa dihidupkan

dan tiada pula kita ketahui kapan masa dimatikan

asal dari lubang rahim kembali kepada lubang rahman

asal datang dari kasih sayang kembali pulang kepada keridloan

pun engkau rasakan betapa sakit saat datang sekarat

itu semua adalah kehendak dari sang maha pemberi rahmat

pun engkau rasakan betapa sedih hati karena suatu musibah

itu semua adalah kekuasaan dari sang maha pemberi berkah

angin berhembus menyejukkan jiwa,

mengapa musafir merasakan panas membakar dada ?

anjing melolong di tengah sunyinya malam,

mengapa hati tak pernah merasakan ketentraman?

Persahabatan

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.

Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.

Nilai Sebuah CINTA

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.

Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta. "Aduh! Maaf, Cinta! Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." kata Kekayaan. Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali, namun kemudian dillihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik.

Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak.

Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta. "Maaf Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja...", kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.

Pada saat itulah barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. "Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu." Tapi mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalinya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran. "Sebab...," kata orang itu, "hanya Waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu..."

Akal dan Nafsu

Ketika Alloh SWT menciptakan Akal dan Nafsu, maka keduanya ditanya: Pertanyaannya sama, kepada Akal terlebih dahulu: “Siapa saya dan siapa kamu, Akal?” Maka Akal menjawab: Anda adalah Sang Kholiq, dan saya adalah makhluk (ciptaanMu). Sementara ketika Nafsu ditanya dengan pertanyaan sama, apa jawabnya? Nafsu menjawab: Aku adalah aku dan Kamu adalah kamu. Lantas dibuanglah Nafsu ke neraka selama 100 tahun. Ketika diambil lagi dari neraka, kembali Alloh menanyai dengan pertanyaan sama, apa jawab Nafsu? Ternyata tetap saja: Aku adalah aku dan Kamu adalah kamu.

THE VALUES OF SMILE

THE VALUES OF SMILE :
  1. It costs nothing but create much.
  2. It enriches those who receive without impoverishing those who give.
  3. It happens in a flash but the memory of it sometimes lasts forever.
  4. None are so rich that they can along without it, and none are so poor but are richer for smile.
  5. It create happiness at home, foster goodwill in a business and is the countersign of friends.
  6. Yet it can not be bought, begged, borrowed or stolen, for it is something that is no earthly good to anybody till it is given away !
  7. And if it ever happens that some people should be too tired to give you a smile, why not leave one of yours ?
  8. For nobody needs a smile so much as those who have none left to give.